melalui bank, yahudi menguasai dunia…

Sufyan al Jawi – Numismatik Indonesia
*Depok, 04 Mei 2010**

*Biarkan orang lain sibuk bekerja, berdagang, memproduksi barang dan jasa. Tapi kita (Yahudi) yang mencetak uang kertas untuk mereka, disitulah kekuasaan berada.

Riba adalah sumber kerusakan di dunia ini. Anehnya riba semakin populer dan kokoh mencengkram kita. Melalui Bank Sentral, riba masuk ke kantong dan dompet kita berupa uang kertas dan uang digital (fiat money). Riba adalah dosa besar setelah syirik dan durhaka kepada orang tua, dosa teringan dari
pelaku riba sama seperti dosa barzina kepada orang tua!

Berabad yang lalu, para *banco* (rentenir Yahudi) telah memperkenalkan riba yang terselubung dalam berbagai modus, sehingga mayoritas umat Islam kini hampir tak mengenali lagi bentuk dan wujud riba yang kian mewabah. Empat
belas abad silam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam telah bersabda:
*”Sungguh akan datang kepada manusia, pada masa itu tidak ada seorang pun
dari mereka melainkan makan riba. Jika tidak memakan riba, ia akan terkena
debunya.”* (HR. Abu Daud, Mishkat – dan Ibnu Majah). Di antara riba yang
terselubung adalah bank yang berlabel syariah, pasar saham syariah, uang
kertas, sampai kartu kredit syariah. Tapi riba yang paling berbahaya tapi
populer sehingga ia ada dalam genggaman manusia adalah uang kertas.Uang
kertas dilihat dari segi fiqih, sudah jelas biangnya riba, ia mengandung
sekaligus dua jenis riba, yaitu riba al-fadl dan an-nasiah, riba uang kertas
takkan dijumpai dalam modus riba jenis lain. Riba al-fadl adalah kelebihan
(surplus) yang diperolehnya melalui pencetakan nominal uang di atas kertas,
dengan angka harga yang ditetapkan itu jauh di atas nilai intrinsiknya
(harga bendanya).

Misalnya uang Rp.100.000,- biaya intrinsiknya Rp.266,-/lembar, maka
kelebihannya adalah Rp.99.734. Inilah yang disebut riba tafadul (riba yang
ditentukan) atau disebut Seigniorge. Dan riba an-nasiah terjadi karena
penundaan pembayaran akhibat penimbunan uang (emas-perak) oleh bank sentral
di setiap negara. Ini menyebabkan neraca kredit berjalan antar bilyet
memaksa ditetapkannya bunga atas penundaan waktu untuk kliring, yang disebut
jasa penyewaan uang atau interest. (Sumber: Dokumen Peruri & BI, Majalah
Tempo, 25 Maret 2007).

Pertukaran uang kertas dengan berbagai barang dan jasa merupakan pertukaran
sesuatu yang ghaib dengan sesuatu yang nyata. Uang kertas disebut ghaib
karena pada hakikatnya uang kertas ini adalah banknote, yaitu surat janji (*
note*) dari bank yang menerbitkannya dan disebut bilyet. Nota ini merupakan
*dayn* atau utang, padahal utang pada bilyet (*banknote*) tersebut tidak
jelas kepada siapa ditujukannya? Dan kapan dilunasinya?

Uang kertas hadir lewat penipuan para bankir sejak abad ke-17 masehi, yang
mendompleng penjajahan bangsa Eropa terhadap bangsa lain, yang populer
disebut imperialisme. Bukti bahwa uang kertas itu tak berharga sama sekali,
misalnya Rp.100.000,- , sobek menjadi tiga serpihan atau lebih, maka
lenyaplah sihir dan janji pada bilyet itu! Karena Bank Sentral menolak
penukaran uang kertas yang termultilasi lebih dari dua bagian. Dan Bank
Sentral memperlakukan uang kertas sesuai masa berlakunya, sehingga seseorang
yang terlambat menukarkan uang kertas lama menjadi uang kertas baru, akan
kehilangan assetnya yang tersimpan dalam uang kertas itu.

*
*
*Bank Sentral: Alat Mengeruk Kekayaan **
*

Bagaimana mereka melakukan ini? Sederhana. Pertama, mereka kuasai saham Bank
Sentral, lalu mereka memulai aksinya. Katakanlah uang yang beredar di sebuah
negara adalah 5 miliar riyal, kemudian Bank Sentral menerbitkan 15 miliar
riyal baru yang diedarkan dalam bentuk pinjaman pembangunan. Maka jumlah
uang yang beredar menjadi 20 miliar riyal, ini akan melemahkan daya beli
dari 5 miliar riyal di masyarakat sebelumnya, karena nilainya tinggal 25%
dari perekonomian. Inilah yang disebut inflasi. Lalu harga-harga melonjak,
misalnya: semula 1 riyal = 1 kg kurma, dengan inflasi tadi kini 1 riyal =
1/4 kg kurma. Dengan demikian Bank Sentral mengontrol 75 % dari sirkulasi
uang di negara tersebut. Tapi ini baru tahap I.

Karena nilai uangnya merosot, maka pengusaha kembali ke bank untuk
mengajukan pinjaman baru untuk tambahan modal, sebab ongkos produksi menjadi
mahal. Kaum buruh menuntut kenaikan upah agar dapat hidup layak, karena
naiknya harga-harga. Saat Bank Sentral cukup puas dengan tingkat utang di
masyarakat, mereka mulai mengetatkan suplai uang dengan mempersulit pinjaman
dan menaikkan suku bunga. Uang yang beredar justru tersedot kembali ke Bank
Sentral, karena suku bunga deposito yang menarik. Kehidupan ekonomi terasa
sulit bagi kaum miskin, sebab uang sulit diperoleh, begitu dapat uang daya
belinya rendah. Sebagian warga terpaksa mencari uang tambahan agar dapat
membeli kebutuhan mereka, kaum buruh kerja lembur, dan yang lain bisnis
sampingan. Hidup mereka diforsir untuk mencari uang. Ini tahap II.

Tahap III, para bankir duduk manis dan menunggu sebagian debitur gagal bayar
dan bangkrut. Ini akan memberi kesempatan kepada bank untuk menyita kekayaan
riil, bisnis, properti dan sebagainya, dengan membayar harga murah lewat
kredit macet. Dengan demikian Bank Sentral dapat meraih untung, meski
sebelumnya mereka telah menguasai 75 % perekonomian lewat inflasi uang.
Pabrik dan bisnis menjadi lesu, sebagian buruh di PHK, ibu-ibu menggadaikan
emas perhiasan mereka untuk bertahan hidup dan bea pesantren anaknya. Aset
masyarakat terus tersedot ke bank. Bahkan emas perak harus diekpor ke luar
negeri sesuai permintaan para bankir (baca: Kaum Yahudi).

Setelah itu mereka mulai menguasai industri vital, sumber daya alam, tanah,
properti dan media massa. Pemilik saham Bank Sentral negara ini kemudian
berkomplot dengan rekan mereka sesama Yahudi di pasar valuta asing (Valas).
Konspirasi ini untuk merontokan nilai uang kertas riyal negara Islam
tersebut. Kenapa? Sebab sulthan telah lancang menegakkan syariat Islam
secara kaffah, dengan mencetak nuqud nabawi dinar dirham sebagai wasilah
muamalah rakyatnya. Tentu saja Iblis murka *dong*.

Pabrik-pabrik dibuat seakan-akan kolaps, harga-harga kembali meroket,
bisnis-bisnis pindah ke luar negeri, pengangguran kembali marak dan kriminal
merajalela, rakyatpun panik. Dahulu mereka mengharamkan demokrasi apalagi
turun ke jalan, namun krisis ekonomi telah berubah menjadi krisis sosial dan
krisis kepercayaan publik. Semua orang menyalahkan sulthan karena menegakkan
Islam secara benar. Media massa mulai menghujat pemerintah, LSM nasionalis
menuding sulthan terlalu niaf dan ketinggalan jaman, bahkan sulthan mulai
dikait-kaitkan dengan Osama bin Laden, karena sama-sama Islam fundamental.
Islam kaffah zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam jangan diterapkan di
zaman modern ini.Batalkan nuqud nabawi sekarang! Zakat dan muamalah cukup
dibayar dengan riyal kertas. Begitu kira-kira tulisan di spanduk-spanduk
pendemo.

Demo berubah menjadi huru-hara. Dunia Internasional mengecam sulthan, ulama
panik dan mendesak sulthan untuk mengalah, asalkan Islam dibiarkan hidup,
meski hanya diseputar masjid saja. *”Ibadah rutin & menuntut ilmu saja ya,
jangan diterapkan sekarang, tunggu khilafah tegak dulu, baru Islam boleh
kaffah dech”* Kata investor Yahudi menasihati sulthan.

Pertanyaan: Apakah Riba boleh menjadi halal dengan terbitnya Undang-undang?
Apakah yang Haram menjadi Halal hanya karena mayoritas manusia telah
menggunakan barang Haram tersebut? Apakah sah status darurat Anda ketika
Pemerintah RI telah membolehkan dinar dirham beredar sejak tahun 2000,
sementara dakwah mengenai uang kertas = riba telah di hadapan anda? Jawabnya
cukup di dalam hati Anda saja.


Trust in GOLD

“komunitas logam mulia /emas pulau batam” group.

About Harimau Belang

stay @ batam island Indonesia i like ride mountain bike, photograph,fishing
This entry was posted in motivasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s